Senin, 11 Juni 2012


Benih Cinta Alam Lawu
   L
ibur tahun baru telah tiba, semua bersibuk untuk merencanakan acara pergantian tahun. Kelas yang gaduh namun disiplin, kini semakin gaduh akan rencana yang telah tersusun. Banyak acara yang menghembus dari telinga ku akan ajakan dari kawan-kawan. Namun  tak ku hiraukan aku hanya dapat menjawab “woke-woke aja”.  Mungkin aku tak sesibuk dengan teman-teman yang lain karena aku sudah mempunyai rencana untuk melewati malam pergantian tahun baru di puncak yang jarang dilakukan oleh orang selain menjadi pecinta alam.
            Teng...teng...teng... bunyi bel akhir sekolah berkumandang, aku segera berlari menuju rumah untuk mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan menuju puncak malam nanti. Aku bersiap-siap dengan hati yang riang, walaupun tak ada teman yang aku kenal akrab tapi aku yakin perjalana untuk merayakan malam pergantian akan meriah.
            Menjelang sore aku segera berangkat menuju tempat berkumpulnya tim pecinta alam, kami saling berkanalan satu sama lain. Namun yang menjadi perhatianku adalah Andrian, salah satu pemimpin dari tim kami. Walaupun kami baru awal berkenalan namun aku segera akrab dengan dia. Dia begitu ramah kepada semua tim, diasaat perjalanan menuju puncak, aku terkejut oleh sapaan dari Andrian “Tia, bagaimana mau istirahat dulu? Tidak usah dipaksakan, kita jalan pelan-pelan saja” kata Andrian. “Masih kuat kok, aku ingin sampai puncak untuk dapat menatap keindahan tahun baru” jawabku. Dengan langkah perlahan aku didampingi Andria untuk menuju puncak, diperjalanan aku semakin mengenal Andria, dia begitu memperhatikan semua anggotanya nya disaat istirahat, hal itu yang membuat aku semakin membuat bangga dan merasakan kasih sayang yang dalam oleh sosok pria yang baru aku kanal.
            Sudah 6 jam kami semua berjalan menuju puncak, hingga akhirnya kami sampai dipuncak. Kami segera membagi tugas yang telah dibagi, ada yang mendirikan tenda, menylakan api dan ada pula yang mempersiapkan kembang api. “Tia, kamu istirahat dulu saja, biarkan otot-otot kamu merenggang biarkan teman-teman yang sudah terbiasa yang mempersiapkan nya” kata Andrian yang mengejutkan aku yang ingin membantu yang lainnya. “iya gak papa santai saja” balasku. Setelah semua tenda berdiri, kembang api telah disiapkan, kami berkumpul bersama menanti waktu pergantian tahun. Saat waktu menjelang berganti, kembang api dinyalakan dengan Indahnya. Semua bergembira menatap keindahan langit yang dihiasi cahaya kembang api dan bintang yang berkilauan membuat hati semakin bahagia. Tak lupa aku mengambil momen-momen terindah yang baru pertama kali aku lakukan. “Tia, selamat Tahun Baru dan selamat bergabung dengan tim Pecinta Alam ini” kata Andria dengan memakaikan jaket hangat di pundakku dan memeluk aku yang sedang duduk yang membuat aku sangat terkejut. Dengan tersipu malu dan bahagia aku hanya dapat menjawab “Trimakasih ya?”. Malam tahun baru yang begitu menyenangkan.
Pagi hari aku sangat terkejut karena kau tertidur di pangkuan Andria yang memelukku. Aku segera membangunkan Andria. ” Maaf aku telah memeluk kamu, namun aku Cuma ingin membantu menghangatkan kamu yang sedang kedinginan” jawabnya dengan gemetar. “Tidak apa-apa kok, Trimakasih telah menjagaku semalan” balasku. Akhirnya kami menatap sang surya yang nampak indah di ujung timur dengan Andria yang telah membuatkan aku minuman untuk menghangatkan ku, aku senang karena telah mendapatkan sosok yang perhatian kepada diriku.
Menjelang siang kami membereskan peralatan untuk turun dari gunung, perjalan dari puncak begitu menyenangkan dan aku masih selalu memikirkan masa-masa indah di atas puncak semalam. Namun diperjalan pulang aku tak bersama Andrian, dia selalu dibelakang jauh. namun aku terkejut saat aku menatap sosok Andria yang sedang memetik bunga Adelwes. Aku berfikir mungkinkah bunga itu untuk diriku, aku begitu tak sabar untuk menerima bunga dari Andrian. Hingga sampai kaki gunung, kami segera membersihkan diri.  Selasai kami semua membersihkan diri kami segera berpamitan satu dengan yang lainnya. “Tia sini” teriakan Andrian terdengar kuat ditelingaku, dengan berjalan yang masih sempoyongan karena kelelahan aku berjalan menghampiri Andrian. “Tia, Maukah kamu menjadi kekasihku?” kata Andria yang membuat hati ini berdetak kencang dengan menyerahkan bunga yang dia cari tadi. Aku tak dapat berkata apa-apa mungkin karena bahagia karena Andrian mengatakan cinta, ataukah aku bingung akan menjawabnya. Belum sempat aku menjawab dan menerima bunga dari Andrian, kami terkejut oleh sosok wanita yang datang dengan merebut bunga dari tangan Andrian dan segera memeluk nya. Aku bertanya-tanya siapakah wanita itu, dengan kuat Andrian segera melepas pelukannya dan meminta bunga yang dia rebut. “Kenapa sayang, bukankah bunga ini untuk aku” kata wanita itu. Segera aku belari pergi dari tempat itu, aku sangat sedih aku berfikir mungkin Andrian hanya ingin menyakiti hariku.
“Tia...Tia... berhenti”, ku tatap Andrian berlari mengejar diriku di jalan dan mengejar pula wanita itu dibelakang Andrian. “sudahlah, janganlah kau sakiti hatiku” kataku kepada Andrian, “Tia berhenti dulu! Aku ingin menjelskannya kepada mu” kata Andria. Saat aku ingin melahkah Andrian segera menangkap tanganku dan berkata “ Aku sayang kepada kamu Tia, aku juga tidak tau kenapa aku bisa mempunyai rasa ini semenjak awal kita bertemu kemarin, dan wanita ini adalah Sekar dia mantan aku yang telah menduakan aku”,“ Apa, kamu lebih memilh wanita ini Andrian? Maafkan aku” teriak gadis yang ada dibelakang Andrian. Dengan cepat Andrian memeluk aku dan menyuruh Sekar pergi. Sekar begitu marah bahkan dia berusaha memukul aku namun Dihalangi oleh Andrian, dengan tangis Sekar pergi meninggalkan kami. “Aku sayang kepada kamu, bukannya aku menggombal, namun sejak kemarin kita berjabat tangan terasa kamulah wanita yang tepat untuku”kata Andrian dengan memeluk diriku. “Aku juga sayang kamu Andrian, apa lagi kamu selalu memberikan perhatian kepadaku itu yang membuat aku semakin sayang kepada kamu” kataku kepada Andrian.
Dengan tak sadar kami telah dipandangi teman-teman yang masih beristirahat dan mereka memberikan sorakan bahagia kepada kami. Dengan Keras Andrian berteriak “Gunung ini telah menemukan cintaku, Aku cinta kamu Tiaaaaaa”....

By : Dhimas Hantoni               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar